13 Sep 2017

Bincang Santai bersama Trio ISKADA

Trio ISKADA Aceh (Syarif-Azwir-Junaidi)
Pagi yang penuh kedamaian saya diajak ngopi bareng dengan Kader ISKADA,  Azwir Nazar, cs Pertemuan itu ibarat temu kangen trio ISKADA Aceh (Azwir-Syarif-Junaidi). Dua Kandidat Doktoral dalam bidang yang berbeza. Junaidi Poroh Jebolan Magister Ekonomi Islam Univ Antar Bangsa Malaysia saat ini sedang melanjutkan Study Doktoral (S3) Kosentrasi Fiq Modern. Sementara Azwir Nazar Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Indonesia, melanjutkan Study Doktoral bidang Ilmu Komunikasi Politik Internasional Universitas Turki. Mereka berdua adalah Kader masa depan Ikatan Siswa Kader Dakwah (ISKADA) Aceh.


Tentu, dari segi usia mungkin saya lebih tua dari mereka, akan tetapi dari aspek Akademik Formal saya ketinggalan satu klik dari mereka. Ya inilah hidup, tak disangka dulunya mereka pernah menjadi junior di ISKADA, akan tetapi kini mereka menjadi senior dalam bidang akademik. Pertemuan yang berlangsung hampir 3 Jam di Dhapu Kupi Ulelheu, Banda Aceh punya kesan tersendiri. Bung Azwir yang juga Presiden Mahasiswa Turki kini semakin lincah dalam  pusaran diplomatik luar negeri.

Kelincahan dan kepiawaiannya dalam menarasikan dan memainkan lakon intelektual dan bisnis Hijabah dan baju Gamis Turki tidak bisa dianggap remeh, sementara Junaidi Poroh semakin piawai dalam membangun jejaring antara kampus dengan lembaga perbankan, termasuk lembaga bursa efek. Kepiawaian itu sangat tergantung pada komunitas yang ia geluti. Azwir Nazar sudah cakap dalam bidang bisnis (toke), sementara Junaidi meniti karir menjadi Dosen di Institute Al-Muslim, Prodi Perbankan /Ekonomi Islam. 

Dari kecil bakat menulis dan orasi Ilmiah semakin kental pada sosok anak Lambada Lhok, Aceh Besar ini. Saat ini ia sering berwara-wiri Aceh-Turki, bahkan sesekali ia berselancar di sosmed di berbagai benua Eropa. Anak muda yang satu ini sangat piawai dalam melakukan komunikasi verbal dan non verbal. Tak ayal jika sudah diberi sinyal untuk bicara maka Bung Azwir bisa memikat sang lawan bicara bahkan bertekuk lutut.
Kalau soal biduan tentu jangan ditanya, hampir semua para gadis Nusantara yang ketemu ia tersipu malu mungkin juga terpikat dengan narasi dan dialektikanya, Cuma sangkit banyaknya sang biduan sampai kini belum ada yang bisa di pikatnya, mungkin juga terlalu banyak memilih.....haha, nyoe haba meuayang, bek beugeh-beugeh. (SM)

Tidak ada komentar: