12 Agt 2016

Merebut Kursi Aceh-1

Oleh : Muhammad Syarif, S.HI.M.H*
Gendang Politik sudah mulai bergema di Aceh. Berbagai kandidat sudah bermunculan. Menariknya 4 Pentolan “Satria Aceh” yang dulunya satu perahu kini mencari jati diri masing-masing. Zaini Abdullah, Muzakkir Mananaf, Zakaria Saman dan Irwandi Yusuf.  Politik itu tidak ada sahabat sejati, Politik itu agak rumit diterjemahkan dengan logika sederhana. Tidak terbayangkan sama sekali akhirnya 4 Pendekar satu seperguruan (baca satu guru, alm. Hasan Tiro), Kini mengadu nasib guna meraih kursi Aceh-1 dengan nawaitu membangun Aceh lebih baik dan bermartabat.

Kekuatan Politik kali ini sungguh berimbang. Disamping itu muncul nama-nama beken lainnya sebut saja; Abdullah Puteh (Mantan Gubernur Aceh), Tarmizi Karim (Mantan Pj. Gubernur Aceh). Dua Kandidat ini juga punya jurus jitu dalam memenangkan pertarungan Pemilihan Gubernur. Dalam Pidato Politiknya Tarmizi Karim mengaku titipan pusat. Sementara Abdullah Puteh, adem-ayem dengan spanduk menterengnya dengan merangkul mantan petinggi GAM.
Berbagai strategi dan manuver Politik sudah dimulai. Kekuatan Mantan Personel Gerakan Aceh Merdeka yang kini melebur dalam wadah Partai Politik Lokal (Partai Aceh, Partai Nasional Aceh, Partai Damai Aceh) serta Komite Peralihan Aceh (KPA). Para Personel KPA/PA pun kini terpencar pada beberapa “kabilah”. Ada yang merapat pada Irwandi Yusuf (Mantan Gubernur Aceh 2007-2012), Zaini Abdullah (Gubernur Aceh 2012-2017), Muzakir Manaf (Wakil Gubernur Aceh 2012-2017, Zakaria Saman (Mantan Menteri Pertahanan GAM), Tarmizi A Karim  dan tidak tertutup kemungkinan ada juga yang merapat pada Abdullah Puteh.
Pimilihan Gubernur Aceh kali ini benar-benar seru. Pesta Demokrasi 2017, Ibarat Pertandingan Bola, Kesebelasannya cukup berat. Group Raksasa dan Elit Dunia. Jerman, Argentina, Spanyol, Perancis, Belanda. Tentunya sulit ditebak siapa sang juara dievent Demokrasi 2017. Tentu para pelatih dalam konferensi press harus mampu menyakinkan boneknya (pendukungnya) untuk menang. Yang paling penting para bonek tidak tawuran sesama, akibat sang jagoannya tidak menang. Ini yang ditakutkan wasit. Tentunya Wasit harus benar-benar pasang hakim garis yang jeli dan lincah dalam mengintip setiap pelanggaran pemain. Penonton (pendukungpun) sejatinya harus sportif dan tidak saling lempar-melempar, tuding menuding apalagi berujung pada kegaduhan demokrasi.
Mari masing-masing pemain, pelatih dan sang bonek, menjaga diri dari letupan emosi yang berlebihan. Ciptakan suasana yang sejuk, sehingga para pemain benar-benar menciptakan gol-gol cantik kegawang lawan dengan gaya dan kelincahan dalam menendang bola-bola cantik.
Tahun 2017, adalah awal yang baik dalam membangun Aceh kedepan.  Kolaborasi Partai Politik Nasional dan Lokal sudah terbangun dengan apik. Jadwal Pesta demokrasi sudah dimulai yang ditandai munculnya 3 Calon Independen; Zaini Abdullah, Zakaria Saman dan Abdullah Puteh.
Membaca pemberitaan di media, dua kandidat ini sungguh unik bayangkan pada saat mendaftarkan pada Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh membawa KTP sebagai syarat maju dalam Pemilukada 2017 satu Truk Tronton. Zaini Abdullah dengan Jargon “AZAN” menyerahkan dukungan KTP pada KIP Aceh sebanyak 201.150 lembar dengan komposisi penyebaran Kabupaten Pidie terbanyak (27.841 lembar), disusul Aceh Utara sebanyak 21 ribu lebih dan Aceh selatan sekitar 20 ribu.
Sementara Zakaria Saman beserta wakilnya mengantarkan KTP kekantor KIP Aceh sebanyak 94 Kardus, sebanyak 154.736 lembar fotokopi KTP. Itu artinya kedua kandidat ini melebihi syarat minimal yang ditetapkan konstitusi 3 % dari jumlah penduduk Aceh atau sekitar 153.045 orang.
Sementara Abdullah Puteh juga tidak kalah menarik. Beliau berpasangan dengan Mantan Petinggi GAM, Sayed Mustafa dengan syarat dukungan 188.459 lembar fotocopy  KTP. Setidaknya warna baru pesta demokrasi Aceh kali ini diuji dan menarik untuk disimak. Walau sesungguhnya para kandidat adalah orang-orang yang selama ini sudah memberikan kontribusi dan karyanya buat kemajuan Aceh.
Selaku Rakyat Aceh tentu sangat bangga, bahwa kondisi ini menjadi pembelajaran demokrasi serta pendidikan politik yang baik bagi masa depan Aceh. Mudah-mudahan para kontestan pesta demokrasi, bukan hanya siap bertarung, akan tetapi juga siap jika mereka tidak terpilih dan menerima kekalahan dengan hati lapang. Ingat membangun Aceh tidak mesti jadi Gubernur, banyak cara dapat dilakoni sesuai kompetensi yang ada. Semoga Pesta Demokrasi 2017 benar-benar sejuk dan damai. Kita boleh berbeda dalam pandangan politik, akan tetapi punya semangat yang sama dalam membangun Aceh lebih baik. Krue semangat. Selamat berkompetisi menuju Aceh-1.

*Penulis adalah Direktur Aceh Research Institute dan Mantan Aktifis`98

Tidak ada komentar: