19 Jul 2016

Mengapa Erdogan dicintai Rakyatnya

Oleh : Muhammad Syarif, SHI.M.H
Eskalasi politik di Turki semakin menarik untuk dikaji. Turki akhir-akhir ini semakin diminati oleh para pelajar dan Mahasiswa Indonesia bahkan Eropa. Turki sebuah negara sekuler, pelan tapi pasti menuju Islami. Dibawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan, turki semakin jaya. Haluan politik negara berubah secara pelan menuju “Islamisasi Modern”.
Setidaknya nuansa keislaman sudah semakin terang benderang di Turki di bawah kepemimpinan Erdogan. Lahir di Istanbul, Turki pada tanggal 26 Februari 1954, Jebolan Ilmu dan Ekonomi Universitas Marmara, memulai karir politik perdananya dengan bergabung pada partai Islam yang bernama Milli Selamet Partisi, namun partai tersebut bubar lantaran terjadi kudeta militer Tahun 1980.

Pasca stabilitas politik kembali normal Erdogan memimpin Partai Kesejahteraan yang dibidani oleh alumni Milli Selamet. Karir politiknya terus melejit disaat menjadi Anggota Parlemen yang pada akhirnya beliau terpilih menjadi Walikota Instanbul Raya, semakin memperkuat posisi Partai Kesejahteraan sebagai salah satu partai di Turki. Langkah karir politiknya semakin manjur, dengan kendaraan Partai yang dipimpinnya mengantarkan ia menjadi sosok yang digandrungi oleh rakyatnya. Presiden Turki dalam pesta demokrasi, walau riak-riak kecil cendrung menghantuinya. Dimana ada rasa kecewa dari kalangan militer.
Keberhasilan Erdogan dalam “mencuri hati rakyatnya” tidak dapat dipungkiri. Membuat namanya semakin tenar. Akhirnyan ia terus memupuk dan merawat kepercayaan Publik dengan mendirikan Andalet ve Kalkinma Partisi (Partai AKP) atau lebih dikenal Partai Keadilan Pembangunan pada Tahun 2001 yang berhaluan Islam. Partainya akhirnya menjadi salah satu partai terbesar di negara bekas kekhalifahan Ottoman. Kemenangan Partainya dalam pemilihan Umum mengantarkan Erdogan menjadi Perdana Menteri Tahun 2003.
Berbagai prestasi diraihnya. Menyulap Kota Istanbul menjadi Kota Modern, Nyaman, berhasil menekan angka kemiskinan, mengurangi angka penangguran, Meningkatkan Produk Domestik Dalam Negeri sebesar 100 Milyar Dollar di Tahun 2013. Ia juga berhasil memasukkan Turki menjadi Anggota G-20 yaitu negara-negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Dari peringkat 111 dunia menjadi peringkat 16 Dunia, sebuah prestasi yang luar biasa.
Bukan Hanya itu, Erdogan juga mampu mengangkat kemandirian Militer, sebagai pertahanan negara dengan memproduksi sendiri peralatan perang seperti Tank, Pesawat tempur serta satelit militer. Keilmuannya dibidang Ekonomi dan Bisnis ternyata manjur menyulap pendapat perkapita Turki dari 3500 dollar pertahun menjadi 11.000 dollar, bahkan Erdogan berhasil membuat nilai tukar mata uang turki naik. Angka kemiskinan ditekan hingga kisaran 2 % bahkan utang Turki pada IMF berhasil dilunasi dengan cadangan devisa hingga 100 Milyar dollar.
Dalam sektor pendidikan, Erdogan berhasil mengratiskan pendidikan bagi rakyatnya. Semua biaya pendidikan bagi rakyat Turki ditanggung oleh Pemerintahnya. Erdogan juga memberikan biaya yang besar bagi warga turki yang melakukan penelitian ilmiah. Erdogan punya mimpi menjadi negara nomor wahid di dunia pada Tahun 2023. Ia memiliki mimpi yang luar biasa, menjadikan Turki menjadi Negara yang Islami. Ia memberikan kebebasan Hijab bagi kaum muslimah di kampus-kampus Turki yang sebelumnya mendapat pelarangan. Dibawah kepemimpinnya Turki menjadi negara yang disegani di Eropa. Tradisi Pengajaran Al-Qur`an dan Hadits kembali di hidupkannya. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban.
Ternyata apa yang dilakukan Erdogan, semakin digandrungi Rakyatnya. Akan tetapi tentu membuat militer gerah. Tradisi Takbir dan Jum`atan bagi militer dihidupkan. Paradigma cultural kerja militer menjadi gerah dengan tampilan sosok yang menjadi idola warga Turki dan warga dunia. Berbagai konflik di pertengahan Tahun 2016 sering terjadi di Turki, mulai dari Bom Bunuh diri, serta kejadian paling anyer “Kudeta Militer”, yang bertujuan menggulingkan pemerintahan yang sah.
Jumat 15 Juli 2016 tepatnya Pukul 15.30 Wib waktu setempat, sekelompok militer Turki melakukan kudeta atas kepemimpinan Erdogan. Kejadian itu bertepatan disaat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sedang berlibur. Kudeta itu akhirnya gagal pasca Pidato Erdogan kepada Rakyatnya tepatnya Pukul 17.30 Wib melalui Skype. Dalam pidatonya Erdogan mengatakan; “yang melakukan kudeta itu adalah gerakan Gulenist, yaitu gerakan keagamaan dan politik yang dikutip oleh kolumnis New York Times Mustafa Akyol. Ada juga pihak yang menuding kemelut politik antara Gulenist dengan Erdogan patut diduga sebagai pemicu kudeta itu. Bahkan ada juga yang beranggapan Kudeta itu didalangi oleh kemalisme”.
Berbagai spekulasi atas kejadian kudeta ini bermunculan. Menurut BBC, sebelum kudeta 15 Juli 2016, Erdogan berencana melakukan mutasi para perwira militer gulenist pada tanggal 16 Juli 2016. Rencana mutasi itu terendus sehingga para jendral gulenist melakukan kudeta secara sporadis dan tidak mendapat dukungan penuh pejabat teras militer Turki. Analisis lain menyebutkan Erdogan sudah mengetahui rencana kudeta dan sengaja membiarkannya karena setelah itu, menjadi cukup alasan Erdogan membersihkan perangkat negara yang berafiliasi pada gulenist, termasuk membersihkan para militer, polisi dan peradilan.
Banyak pengamat hubungan luar negeri menebak ada apa sesunggunya dibalik kudeta itu. Benarkan ada pengaruh gerakan Gulenist dan Kemalisme yang mendapat sokongan dari Amerika. Setidaknya berita perseturuan Gulenist dan Erdogan pasca penyelidikan oleh kejaksaan yang menganggap ada aroma korupsi di tubuh kepemimpinan Erdogan. Atau memang ada skenario Amerika ingin menjatuhkan Erdogan, karena dianggap Erdogan menjadi kuda hitam bagi kepemimpinan Dunia saat ini. Harus diakui Erdogan seringkali menyuarakan sikap politik yang berbeda dengan Amerika, suaranya lantang menyerang Yahudi dan gemar membantu Gaza, Palestina yang membuat para antek-antek Zionis semakin membenci Erdogan.
Tentu kita boleh saja menebak apa sesungguhnya motif dibalik kudeta itu. Setidaknya berdasarkan pemberitaan di sosial media, Rakyat Turki masih mencintai Erdogan, bahkan rakyat menjadi benteng perlawanan terakhir, disaat Negeri Turki sudah dikuasi oleh elit militer. Rakyat Turki masih setia pada Erdogan. Satu kata kunci “Pemimpin yang adil akan senantiasa dicintai rakyatnya”. Erdogan salah satu bukti kepemimpinan yang dicintai oleh Rakyatnya. Suaranya didengar dan dijalankan oleh rakyatnya. Wallahu `alam binshawab

*Penulis adalah Direktur Aceh Research Institute serta Peminat Politik Pemerintahan Dalam dan Luar Negeri.



Tidak ada komentar: