Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Wahid”. Dipahami sebagai zat yang maha pertama, zat yang maha esa. Sejatinya kita harus benar-benar menomor satukan Allah dalam hidup dan kehidupan. Al Wahid juga bermakna antara lain;
· Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah
· Tidak ada yang menyamai, menandingi, atau menyerupai-Nya dalam zat, dalam sifat dan perbuatan-Nya
· Seluruh alam semesta bergantung kepada Allah. Sedangkan Allah tidak tergantung kepada siapapun.
Untuk meneguhkan Allah adalah nomor wahid maka tema muhasabah kita adalah mengulang kaji memahami secara utuh esensi ke- esaan Allah. Memahami makna al wahib mengajarkan umat Islam untuk menguatkan tauhid, mengiklaskan ibadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Firman Allah yang artinya; “ Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan selain Dia, yang maha pengasih lagi maha penyanyang” (QS. Al Baqarah: 163)
“Bahwa Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS. Al Maidah: 73)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya da rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan juga mereka mempertaruhkan al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh Allah yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS. At Taubah: 31)
Dan tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban). Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu iala Allah Tuha yang maha esa, karena itu berserah diri kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah). (QS. Al Haj: 34)
Karena itulah cara terbaik dalam merefleksikan al wahid adalah sebagai berikut;
Pertama; mensyukuri al wahid di hati dengan menyakini Allah maha esa, yang harus di esakan. Allah maha satu yang harus dinomor satukan dan tidak boleh diduakan.
Kedua; mensyukuri al wahih secara lisan dengan memperbayak mengucapkan alhamdulillahirabbil `alamin, seraya mehohon doa pada Allah agar kita berketetapan hati dalam keimanan atas ke-esaan Allah tanpa menyekutukan-Nya.
Ketiga; mensyukuri al wahid dengan perbuatan nyata seperti menempatkan harta, tahta dan wanita/keluarga pada posisinya dengan tetap menomorsatu Allah. Jadi Allah tetap menjadi yang pertama dan utama, sehingga harus dinomorsatukan dan diutamakan.
**Goresan pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Banda Aceh, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh (FMLA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar