30 Des 2018

Final Ceria di Penghujung Tahun 2018


Oleh: Muhammad Syarif

Kami abadikan leksikon ini
Ujian Final menjadi menakutkan bagi sebagian mahasiswa, bahkan juga hati dag---dig—dug. Ada juga yang merasa bangga dengan final karna ingin mengevaluasi sejauh mana kemampuan personal mahasiswa terhadap bidang study yang dipelajari selama satu semester dan ini bagian dari evaluasi akademik atas bidang study yang diajarkan oleh dosen pengampu.

Sabtu, 29 Desember 2018, mahasiswa Prodi Hukum Pidana Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, sebagian dosen pengampu bidang study melakukan ujian final. Kali ini seperti biasanya saya memberikan ujian final dan biasanya jarang mengawas ujian final. Bukan malas ngawas, tapi biar ada peran akademik dalam pengawasan ujian...hehe. bukan ngeles, tapi ini memang tradisi saya. Akan tetapi sudah dua pekan mahasiswa terkatung-katung akibat tidak ada personil akademik untuk ngawas, karena keterbatasan member. Dan Mahasiswa pun mengirim pesan berantai, ada yang minta ujian final di rumah saja (tat nateuh peukateh mahasiswa zaman now), ada juga yang meminta ujian final diawasi langsung oleh dosen pengampuh bidang study.

Akhirnya saya pun membalas pesan berantai, Insya Allah Sabtu saya yang awasinya langsung. Dua kelas secara paralel ujian final mata kuliah "Hukum Pidana Adat". Salah satu matakuliah yang sejak awal diasuhnya, walau disiplin Ilmu sejatinya Hukum Tata Negara atawa serumpun seperti Legal Drafting, Hukum Pemerintahan Daerah, Hukum Kelembagaan Negara dan e-Goverment. Sesuai bidang kajian yang geluti di saat kuliah Magister Ilmu Hukum serta pengalaman birokrasi pada Pemerintah Kota Banda Aceh. Entah kenapa, apa karena sejak awal yang merancang Silabus Hukum Pidana Adat (HPA), maka materi ini selalu saya yang ampuh. Padahal sudah bosan juga, karena bukan keahliannya. Tapi ya sudah, dalam kondisi apapun kita harus siap...hehe. Setidaknya ada upaya mengoleksi beberapa referensi terkait Hukum Pidana Adat.
Bidang Kajian Magister

Setiap mahasiswa yang masuk kelas langsung ambil soal ujian yang masih bersegel akademik dan lembaran kertas berstempel akademik.
 
bersama tiga sekawan di waktu tambahan
Saya cuma memastikan bahwa soal cukup dan absensi ujian tidak terlewatkan. Durasi waktu 90 menit. Jika sudah habis waktu langsung dicabut. Saya pura-pura sanger pada hal melangkolis, hehe. Saat waktu sudah habis semua pada kumpul ternyata di pojok ada tiga sekawan yang minta tambahan waktu. Ya ibarat wasit pertandingan bola, permintaan itu dipenuhi. 

Setelah usai, saya coba lirik kelas yang sebelahnya. Eh ternyata masih tersisa satu mahasiswa yang meminta waktu tambahan....pak sikit lagi...lah. Ini tanggung. Entah apa yang dinarasikan sehingga cukup lama. Padahal yang bersangkutan sebut saja namanya Bambang (nama anonim), nalarnya tidak berfungsi lagi. Saya pun mengabadikan momen keceriaan ini bersama dua leksikon yang berbeza.


Tidak ada komentar: