19 Jun 2011

Dampak Perdagangan Bebas terhadap semangat Nasionalisme Masyarakat Batam




BAB : SATU
PENDAHULUAN

Oleh : MUHAMMAD SYARIF*

1. Latar Belakang
Presentasi Karya Tulis Akhir
Batam merupakan  sebuah kepulauan kecil dengan luas kurang lebih 400 km2, yang memiliki jumlah penduduk sekitar 6000 orang di tahun 1970. sedangkan akhir desember 2006 pertumbuhan penduduk berjumlah 713.960.000 orang,yang berasal dari pulau jawa dan Sumatra[1]. Batam dapat berkembang seperti sekarang dengan kontribusi ekspor mencapai 100 % dari ekspor nasional. Indikator keberhasilan Batam akibat perdagangan bebas terus dapat dirasakan oleh masyarakat, hal ini dapat kita lihat bahwa dengan terserapnya lapangan kerja sekitar 175.000 orang dengan menghasilkan Pendapatan Asli Daerah sekitar Rp.55 Milyar (hingga akhir tahun 2000) serta mengirimkan pajak ke pusat sebesar Rp.871 milyar dalan tax ratio 20 % di seluruh pulau Batam.
Keceriaan bersama kawan-kawan
Banyak pihak mungkin melihat bahwa posisi strategis Batam merupakan faktor utama keberhasilannya di bidang penerimaan jasa perdagangan dan Indutri. Namun disisi lain kita melihat dampak dari perdagangan bebas dapat dirasakan melemahnya nilai-nilai Nasionalisme kebangsaan masyarakat/ pemuda Batam. Hal ini bukan tanpa alasan, barangkali ini muncul karena masyarakat Batam lebih mudah membangun akses dengan Singapura terutama menyangkut masalah kerjasama bilateral dalam bidang perdagangan. Oleh karena itu saya sangat tertarik untuk mengkaji lebih dalam terhadap dampak perdangan bebas terhadap Nasionalisme (Kajian Analisis Terhadap Masyarakat Batam)
2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan karya tulis ini antara lain :
1.      Bagaimana pola hidup masyarakat Batam?
2.      Bagaimana pengaruh perdagangan bebas terhadap penyerapan lapangan kerja?
3.  Bagaimana dampak Perdagangan bebas terhadap semangat Nasionalisme masyarakat/pemuda Batam?
3. Tujuan Pembahasan/ Penelitian
Adapun tujuan Pembahasan/Penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Pola hidup masyarakat Batam
2.      Untuk mengetahui pengaruh perdagangan bebas terhadap penyerapan lapangan kerja
3.  Untuk mengetahui Dampak perdagangan bebas terhadap semangat Nasionalisme masyarakat/ pemuda Batam
4. Metode Pembahasan/Penelitian
Penulisan karya tulis ini dengan melakukan pendekatan Deskriptis dimana dalam menyampaikan informasi bersumber dari hasil observasi, studi kepustakaan dengan mengkaji referensi sebanyak banyaknya seputar Batam, kemudian data tersebut diolah dan dianalisis. Karya tulis ini dibagi dalam empat pokok pembahasan meliputi:
Bab Satu: Pendahuluan yang meliputi; Latar Belakang Masalah, Rumusan masalah, Tujuan pembahasan serta metode pembahsan.
Bab Dua: Selayang pandang masyarakat Batam yang meliputi; Profil Batam, Batam menyongsong masa depan serta Transpormasi Industri Batam.
Bab Tiga: Dampak perdagangan bebas terhadap semangat Nasionalisme. Pada Bab ini akan di bahas tentang; Batam dan perdagangan bebas, Hubungan bilateral Batam dengan Singapura, Semangat Nasionalisme masyarakat/ pemuda Batam.
Bab Empat : Penutup, yang membahas kesimpulan dan saran


BAB DUA
SELAYANG PANDANG MASYARAKAT BATAM

1. Profil Batam
Salah satu objek Wisata Batam
Banyak pihak mungkin melihat bahwa posisi strategis Batam merupakan faktor utama keberhasilannya. Posisi strategis sebagai pulau yang dekat dengan Singapura sesungguhnya bukanlah hanya monopoli Batam. Banyak pulau lain di sekeliling Batam yang mempunyai posisi strategis serupa, namun tidak menghasilkan kinerja seperti yang dicapai oleh Batam.
Keindahan Batam
Posisi strategis ternyata tidak cukup, namum perlu upaya membangun sarana prasarana demi keberlangsungan roda lalu lintas pemerintahan. Disamping itu, upaya membangun sistem kerja (Networking) dengan stakeholder lainnya dengan tuntutan pelayanan berkelas internasional, profesionalitas, sistem kerja yang efisien dan cepat merupakan salah satu faktor kemajuan Wilayah Kepulauan Batam[2].
Objek Wisata Batam
Secara dejure Batam merupakan kawasan kepulauan dengan mengandalkan di sektor jasa Industri dan perdagangan (daerah Quasi Free Trade Zone) yakni kawasan indutri yang sudah sedemikian menyatu dengan penduduk sekitarnya, sehingga insentif perpajakan yang diperuntukkan bagi industri juga dinikmati oleh seluruh penduduk di Batam. Pulau yang memiliki luas are kurang lebih 400 km2 ini, dalam menahkodai pemerintahan di ibaratkan perahu yang dua mesin. Artinya kepemimpinan manajerial Batam di lakoni oleh Pemerintahan Kota Batam (Walikota Batam) dan Badan Otoritas Batam. Inilah yang menjadi cirikhas Kepulauan Batam bila dibandingkan dengan kepulauan yang lanilla di Indonesia.
Banyak negara-negara yang tertarik untuk melakukan Investasi di Kepulauan Batam seperti Singapura, Amerika, Jepang, Korea, Emirat Arab disamping juga banyak Perusahaan domestik yang tertarik untuk melakukan Investasinya di Batam.
Secara sederhana, pengembangan daerah kawasan Batam dapat di bagi dalam empat tahap yaitu: Tahap I (1973-1976) mencakup upaya persiapan, Tahap II(1976-1978) merupakan tahap konsolidasi, Tahap III (1978-1997) ádalah tahap pembangunan prasarana/ Infrastruktur dan penanaman modal. Pada tahap IV (1998 sampai Sekarang) adalah melakukan akselarasi terwujudnya Batam sebagai kawasan Industri, perdagangan, pariwisata dan alih kapal dengan mempertahankan nuansa sosial development.

2. Batam menyongsong masa depan 
Terminal Ferry Internasional di Batam
Melalui Keppres No.41 tahun 1978 Batam ditetapkan sebagai bonded warehouse (gudang berikat), sampai akhirnya seluruh pulau Batam, Rempang dan Galang (Barelang) menjadi kawasan Berikat (Keppres N0.28 tahun 1992).[3]
Sehingga badan otorita batam berfungi mirip sebuah badan administrador kawasan. kesemua ini menjadikan batam sebagai free trade zone (kawasan perdagangan bebas).
Ternyata perkembangan menuju kawasan perdagangan bebas merupakan berkah yang tersembunyi bagi Batam seperti yang ditujukan oleh data statistik.[4] sejalan dengan perkembangan investasi di Batam, menyebabkan omset Batam kian melonjak. Pertumbuhan ekonomi semakin baik di Batam pada waktu. Angka ratio setoran pajak kepusat berkisar Rp. 6,5 milyar (tahun 1980) sampai dengan Rp.874 milyar. Ini sungguh Sangay speltakuler teman-teman semua.
Penerimaan Daerah Kota Batam dengan asumsi jira mereka tidak masuk ruangan ada dispensasi kuliyah. Perkembangan Investasi meningkat tajam bila tahun 1980 hanya berkisar Rp.0,97 milyar. Pada tahun 1998/1999 mencapai Rp.46 milyar. Maka diperkirakan akan hadir manusia-manusia seperti robot yang senantiasa kaku. 
Dari sisi investasi, tampak bahwa investasi pemerintah yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur di Batam mencapai US$ 116 juta pada tahun 1978. Pada tahun 2000 total investasi pemerintah telah ditanamkan sebesar US$ 1,6 milyar, telak berhasil menarik investor swasta sebesar US$ 5,7 milyar atau lebih dari tiga kali lipat dari investasi pemerintah. Disamping itu efek lain dari investasi adalah tumbuhnya unit-unit usaha kecil menengah (UKM) yang sekarang berjumlah lebih 8.000 buah, serta penyerapan tenaga kerja kurang lebih 170.000 orang pekerja.
Dari ilustrasi tersebut dapatlah dimengerti bahwa selain lokasi strategis, faktor kunci keberhasilan suatu daerah industri adalah tersedianya infrastruktur yang memadai, terjaminnya keamanan, terjaminnya sistem, prosedur, pengelolaan efisien, tidak berbelit-belit, serta adanya insentif perpajakan. Walaupun disadari bahwa dampak investasi yang sifatnya privatilisasi Asing akan membuat sistem sosial cumunal hancur dan yang ada hanyalah gaya hidup hedonisme dan liberalisme, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada hidupnya dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara.
3. Transpormasi Industri di Batam
Jembatan Balerang nan Esostik
Tahap awal pengembangan indutri di Batam di dominasi oleh industri perminyakan, yang saat ini berkembang saat besar, terutama industri minyak lepas pantai. Dengan letak yang berada di kepulauan Riau sebagai produsen minyak dan kawasan internaional, Batam merupakan daerah yang sangat tepat di jadikan basis logistik industri perminyakan. Industri perminyakan ini mewarnai kegiatan perekonomian Batam pada dekade 1970-1980.
Seiring dengan dilengkapinya infrastruktur di Batam yang meliputi sarana perkantoran, tempat tinggal, pendidikan, transportasi, air, listrik dan sarana penunjang lainnya, maka Batam terus menjadi pusat peradaban atau miniaturnya “Singapur Mini” Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan, ditandainya bermunculan hotel-hotel berbintang, jasa hiburan meraja lela mulai kelas ABG (Anak Baru Gede) sampai hiburan kelas eksekutif dan kelas tua.
Dengan kejelian melihat peluang usaha, jenis indutri di Batam mulai beralih kepada industri manufaktur peralatan elektronika. Industri ini berkembang semakin cepat dengan berkembangnya kawasan industri. Naiknya nilai investasi asing dan domestik memacu masyarakat untuk makin meningkatnya daya saing Batam dengan beberapa pulai di sekitar.[5]
Kebutuhan akan tenaga kerja baik yang tergolong Skilled Labour, maupun yang unskilled Labour, menumbuhkan tingkat migrasi yang tinggi. Persaingan yang ketat dalam memperoleh lapangan kerja merupakan khazanah persaingan yang positif dalam memperjuangkan hidup dan kehidupan. Disadari atau tidak masyarakat bawah akan tetap berdampak yang siknifikan. Bayaknya rumah-rumah liar atau lazim dikenal dengan Rulli  membuat pemerintah harus cerdas memahami problem tersebut.
a. Tahapan Perkembangan Industri Batam
Perkembangan idustri Batam yang pesat dapat digambarkan dengan mengkaji dari beberapa aspek yaitu jenis produk, penggunaan teknologi, kepemilikan dan manajemen Jeni produk yang dihasilkan Sesuai dengan kebutuhan, jenis dan produk yang dihasilkan oleh industri di Batam sangat beragam dan Variatif. Pada tahap awal pengembangan Batam, kebutuhan akan suplai dukungan industri minyak lepas patai sangat banyak. Hampir semua kebutuhan yang berbentuk steel  structure dihasilkan oleh bengkel dan workshop di Batam. Sebagai besar dari perusahaan ini masih beroperasi dengan baik.

Perkembangan jenis produk makin variatif sejak dikembangkannya berbagai kawasan industri. Pada kawasan industri tersebut berkembang kawasan industri ringan semacam packaging, mental stamping and cutting, garments, peralatan kesehatan dan peralatan elektronik. Industri yang bersifat ringan seperti industri Packaging ataupun industri perakitan elektronika saat ini boleh dikatakan sudah menerapkan teknologi produksin yang modern dan canggih, beberapa industri telah sampai pada tingkat full automation. Hal ini diterapkan karena tingkat tuntutan yang tinggi pada ketelitian produk dan time delivery-nya. Contohnya industri komponen yang berafiliasi pada produsen Jepang.

Penggunaan Teknologi
Tinjauan terhadap perkembangan penggunaan teknologi beberapa industri di Batam pada dasarnya juga terkait pada time history dari perkembangan teknologi industri pada umumnya. Pada waktu tingkat industri penunjang kebutuhan perminyakan (jasa logistik) masih mendominasi,tingkat perkembangan teknologinya masih bersifat konvesional. Dalam satu industri, pemakaian teknologi yang bertingkatpun masih banyak digunakan. Salah satu industri tersebut karena jenis dan asal produksinya datang dari berbagai tempat, penggunaan teknologinya disesuaikan dengan persyaratan dari pemesannya. Akan tetapi beberapa industri di Batam juga masih ada yang menggunakan teknologi yang masih sangat sederhana seperti pada industri stamping, cutting, paper/plastic packaging.[6]
Berdasarkan Kepemilikan
Membandingkan tingkat kepemilikan dari beberapa industri di Batam sangat dipengaruhi dengan jenis industri yang dikembangkan. Semakin canggih industri yang dikembangkan, maka semakin besar pulai investasi yang dibutuhkan, termasuk juga kaitannya dengan pemamfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Jujur saja kita ketahui bahwa Industri-industri Elektronik dalam sekala besar di kuasai oleh pihak asing.
Sebagian besar industri yang memberi kontribusi ekspor adalah perusahaan PMA. Di batam sebagai daerah perdagangan bebas, seluruh kepemilikan PMA boleh dimiliki oleh pihak asing, namun dengan berkembangnya jiwa enterpreneurship, makin banyak industri yang tingkat kepemilikan lokalnya makin besar dan tetap berkembang dengan pesat. Industri tersebut meliputi industri elektronika, industri galangan kapal di Tanjung Uncang. Industri yang mayoritasnya telah bergeser ke arah kepemilikan lokal pada umumnya adalah industri yang bergerak di sektor jasa hiburan, perhotelan dan angkutan transportasi darat dan laut.
Perkembangan Manajemenya
Perkembangan manajemen pada industri yang ada di Batam sangat dipengaruhi oleh kualitas Sumber Daya Manusianya. Sebagian kecil PMA masih menggunkan tenaga asing untuk level senior engineer dan top managementnya, sedangkan untuk level dibawahnya berasal dari Tenaga Kerja seluruh Indonesia terutama dari Sumatera dan Pulau Jawa. Data terakhir (2006) jumlah pekerja 75000 orang tenaga kerja Indonesia dan 3400 orang tenaga kerja asing.
b. Peningkatan Mamfaat
Kantor Pemerintahan di Batam
Masing-masing tahapan tinjauan industri tersebut diharapkan mampu memberikan kesempatan dan peluang yang besar bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat sekitar Batam, sehingga kehidupannya lebih mapan. Tentunya untuk mempercepat terwujudnya mamfaat sebagaimana dimaksudkan diatas maka perlu di tempuh beberapa langkah-langkah sebagai berikut:
Ketersediaan infrastruktur yang memadai dan memenuhi syarat meliputi; sarana perhubungan, transportasi, ketersediaannya tenaga listrik yang cukup, pasilitas kesehatan dan air bersih, serta ketersediaanya sarana penunjang pendidikan bagi masyarakat yang ada di Batam.
Tersedianya Sumber Daya Manusia yang berkualitas, hal ini dilakukan dengan melatih sebanyak mungkin ketrampilan life skill, akses pendidikan yang cukup, memperbanyak pendidikan yang menjurus kepada orientasi penyerapan tenaga kerja.
Jiwa Kewirausahaan. Semangat ini perlu ditularkan kepada masyarakat Batam, agar tidak merasa ketergantungan pada bekerja pada orang lain. Jiwa kemandirian dan keberanian untuk mengembangkan potensi yang ada mutlak di butuhkan.
Sistem dan kebijakan publik yang kondusif, hal ini sangat berpengaruh terhadap iklim investasi dan perkembangan industri. Kebijakan publik yang kondusif serta proteksi hukum yang bagus membuat para investor baik Nasional maupun Asing akan semakin tertari dan berminat untuk menanamkan modal usahanya di Batam, sehingga mempercepat perputaran ekonomi masyarakat Batam, yang pada akhirnya mayarakat Batam akan makmur.



BAB TIGA
DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS TERHADAP NASIONALISME

1. Batam dan Perdagangan Bebas
Pembangunan Kota Batam
Adanya kecendrungan outsoucing dibidang industri global pada milenium ketiga mendorong Otoritas Batam untuk terus memamfaatkan momentum tersebut dengan menyediakan berbagai fasilitas dan kemudahan yang mampu mengundang para investor untuk masuk dan merelokasikan industrinya di Batam. Walaupun masih diakui bahwa upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam dan Badan Otoritas Batam masih jauh dari harapan banyak orang. Setiap tahun tidak kurang dari 1,1 juta wisata yang berkunjung ke Batam, dengan nilai ekspor pertahun kurang lebih US$ 5-6,7 milyar nilai kumulatif investasi. Bahkan akhir 2006 nilai aset Batam  US$ 12,4 milyar.[7]
Hote di Batam
Pada saat crisis moneter melanda Indonesia dan negara dikawasan Asia lanilla, Batam masih menunjukkan ketangguhannya. Meskipun harus diakui terjadi penurunan kinerja, Namun pertumbuhan ekonomi masih dapat dipertahankan positif 2,7 % dibandingkan dengan pertumbuhan daerah lain di indonesia yang minus 12 %, hal inilah yang mendorong para pencari kerja berbondong-bondong masuk kebatam hingga disektor formal telah terserap tenaga kerja sekitar 145.000 (per Juni 1998) sedangkan rasio jumlah penduduk terhadap jumlah tenaga kerja mencapai kurang lebih 2 banding 1.[8]
Agar praktek Free Trade Zone (FTZ) dapat jelas dimengerti, berikut ini beberapa prinsip FTZ yaitu:
a)     Dari Aspek perpajakan Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tidak dikenakan. Namur demikian pajak penghasilan (PPh) masih diterapkan baik secara badan (corporate) maupun perorangan. Nilai PPh yang dihasilkan Batam pada tahun 1999 telah mencapai Rp.798 milyar.
b)      Dari Aspek Bea Cukai; Terhadap barang yang keluar masuk Batam (dari dan luar negeri) tidak dilakukan pemeriksaan, kecuali untuk barang bahaya seperti narkoba, sensata dan sebagainya. Disamping itu barang yang keluar masuk Pulau Batam dari dan keluar negeri tidak dikenakan bea masuk.
c)      Dari Aspek Perdagangan: Karena FTZ dikecualikan dari Wilayah Kepabeanan Indonesia, maka barang masuk dari luar negeri dari Pulau Batam tidak diperlukan sebagai barang imfor. Tapi barang dari Batam yang masuk ke Wilayah Indonesia lanilla diperlakukan sebagai barang impor. Sedangkan barang yang masuk dari dalam  negeri ke Batam diperlakukan sama dengan perdagangan antar pulau lain di Indonesia.
d)      Dari Aspek Kependudukan: Pengaturan dilakukan terhadap penduduk yang keluar masuk pulau Batam, penduduk yang boleh tingla adalah mereka yang berkaitan dengan kegiatan FTZ.
Semua keberhasilan yang dicapai itu tidak sepenuhnya bertumpu pada status Batam sebagai daerah Bonded Zone. Hal ini terlihat pada praktek lapangan. Sejalan dengan status yang di emban Batam sebagai mana yang tertuang dalam Keppres 41/1973, otoritas Batam menetapkan fungís pengembangan seperti yang dirumuskan dalam RKDTR 1979 yaitu:
·        Pengembangan industri, terutama yanng bertujuan ekspor
·        Kegiatan alih kapal dalam arti yang luas
·        Logistic Base and Marshalling Area, baik untuk keperluan pemerintah maupun swasta.
·        Pembinaan pusat distribuís dengan tujuan domestik dan internacional
Industri pertanian/ perikanan, procesing dan kepariwisataan.
Meskipun Batam mempunyai potensi yang cukup bagus dibandingkan dengan daerah kepulaun lain di Indonesia, dengan memperhatikan berbagai kondisi Batam akhir-akhir ini, sudah dirasakan timbulnya berbagai permasalahan seperti derasnya arus migrasi penduduk dari daerah lain, hal ini menimbulkan berbagai macam problem ikutan seperti, timbulnya rumah-rumah liar, masalah pengangguran, kepadatan lalu lintas dan masalah-masalaha lainnya.
Minimnya penyediaan rumah bagi penduduk dari perusahaan tempat mereka bekerja dan mahalnya biaya hidup juga bagian dari warna arus dampak perdagangan bebas. Pada akhirnya akan timbulnya rasa kesadaran yang rendah dan semangat naionalisme yang menurun, dan ini tentu dapat berakibat buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat/ Pemuda di Batam lebih mudah melakukan akses ke Singapura. Bahkan salah satu bukti kongkrit yang menyebabkan luturnya Nasionalisme adalah hampir kebanyakan nama jalan di Batam merupakan nama-nama asing seperti Jalan Cape Ton, Nagoya, Harbour dll. Nama Hotelpun banyak memakai nama asing, bahkah jam yang di tarok di Hotel tidak ada time o`clok Indonesia. Namun Langsung Batam-Singapura, Malaysia, Autralia. Pertanyaan yang muncul kemudian di benak saya apakah rasa nasionalisme mayarakat di Batam masih kental ? jawabannya saya pikir Sangat subyektif. Yang jelas analisis saya mengatakan “Masyarakat Batam semangat nasionalime Masyarakat/ Pemudanya melemah”

2. Hubungan Bilateral Batam-Singapura
Study Banding Peserta TANNASDA
Salah satu faktor utama yang memungkinkan majunya perkembangan industri di Pulau Batam adalah besarnya aktivitas dan hubungan dagang dengan negara tetangga terutama Singapura. Letak geografis yang hanya 18 Km dengan waktu tempuh kapal feri sekitar 1 Jam maka Batam dan Singapura praktis menyatu.
Keadaan ini tentu harus dipertahankan dan ditingkatkan dengan terus menggali berbagai peluang yang ada untuk mensejahterakan rakyatnya. Disamping itu berbagai strategi mesti di pikirkan oleh Pemerintahan  Kota Batam sehingga memperkuat posisi tawar Batam di mata dunia, dan ini penting. Sehingga Batam tidak dijadikan boneka oleh pihak asing terutama Singapura. Kalau hal ini tidak di pikirkan, tidak tertutup kemungkinan seluruh aset yang ada di Batam di kuasai oleh perusahaan Asing.
Dalam kaitan ini tibuk polemik strategi Bangsa Indonesia, apakah kita akan mengembangkan Pulau Batam sebagai pesaing terhadap Singapura (dan mungkin terhadap kawasan pertumbuhan di negara tetangga lainnya) atau mengembangkannya secara lebih realistis yaitu bekerjasama dan saling melengkapi dengan negara itu?
Peserta TANNASDA bertandang Ke MABES TNI
Sebagian kalangan menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman, akan sangat sulit bkerjasama dengan singapura, mengingat singapura selalu memperhitungkan segala sesuatu berdasarkan perspektif bisnis semata. Mereka akan selalu mencari celah dan kesempatan untuk menarik keuntungan bagi pihaknya tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut merugikan pihak lain.Bagi Singapura, kerjasama merupakan ikatan bisnis.selama mitra kerjasama menguntungkan singapura, selama itu pula kerja sama itu langgeng sebaliknya selama kerjasama itu tidak menguntungkan lagi bagi singapura maka kemungkinan besar hubungan bilateral itu akan putus di tengah jalan.
Suasana Belajar Peserta TANNASDA
Singapura sadar bahwa pada hakekatnya bahwa tetangganya menginginkan kerjasama yang lebih “berperasaan” ketimbang dari kerjasama yang berorientasi bisnis. Kalau kita mencoba jeli melihat gelagat Singapura adalah ternyata mereka memiliki prinsip merelokasikan Industrinya kedaerah-daerah yang potensial untuk kejayaan Bangsanya. Singapura berkeinginan merelokasikan  industrinya karena karena mereka memang tidak punya pilihan lain kalau hanya ingin tetap memperjuangkan daya saing mereka. Industri penunjang ataupun bagian-bagian dari proses produksi yang dapat ditangani oleh unskilled dan semi skilled labour di relokasi ke negara-negara tetangga seperti Johor, Batam dan Thailand. Sedangkan produk-produk atau bagian-bagian dari proses produksi yang membutuhkan profesional atau high quality labour tetap berada di Singapura. Dengan demikian meskipun suatu perusahaan berada di luar negara lain, tetap berada dalam kawasan pengawasan singapura. Bangsa Singapura terus melakukan terobosan sebagai upaya memperkuat posisi tawar di kawasan Asia.
3. Semangat Nasionalisme Masyarakat/ Pemuda Batam


Diskusi Kelompok
Sebagaimana diuraikan diatas, bahwa dampak Perdagangan bebas cukup dirasakan oleh masyarakat Batam. Bukan hanya dari segi fositif, Namur juga dari segi negatif. Disadari atau tidak Perdagangan bebas membuka celah terciptanya kesenjangan sosial masyarakat setempat. Kaum borjuis deng kaum dhuapa akan terlihat berbanding terbalik dengan suasana kehidupan masyarakat disana. Jurang kesenjangan yang kentara pada akhirnya akan tercipta sebuah iklim yang apatis dan cuek terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Kehidupan ini sangat berbahaya pada jiwa Nasionalisme Bangsa Ini.
Suasana Belajar Peserta TANNASDA
Kehidupan glamor akan mewarnai masyarakat atau generasi muda. Pergaulan bebas cukup berpeluang terjadi. Praktek kriminal juga terkadang tidak bisa di bendung karena kehidupan sosialnya sudah beralih menjadi nuansa Liberal-materialisme. Budaya Westernisasi juga terkadang sulit di hindari. Rasa kebangsaan akan melemah karena sudah tidak ada lagi sekat yang berarti. Oleh karena itu yang paling penting menurut saya adalah bagaimana Pemerintahan Kota Batam khusunya dan Pemerintah Negara Republik Indonesia untuk memikirkan persoalan ini secara serius. Pendidikan harus di formulasikan yang berwawasan kebangsaan dan nuansa Religius agar bisa membentengi diri dari arus globalisasi dan arus modernisasi akibat dari Perdagangan Bebas. Yang pasti kita tidak boleh alergi dengan Free Trade Zone, akan tetapi kita harus bisa membentengi diri dari dampak negatif dari perdagangan tersebut.


BAB EMPAT
PENUTUP

1.      Kesimpulan
·        Dilihat dari letak Geografis Kawasan Kepulauan Batam sangat strategis dalam praktek lalu lintas sistem perdagangan Bebas
·        Sistem perdangan Bebas cukup banyak memberikan peluang bagi negara-negara yang sudah mapan struktur pemerintahannya untuk senantiasa melakukan ekspansi baik dari segi Politik, Sosial, Budaya dan Ekonomi
·      Dengan mencermati kondisi Batam saat ini, saya melihat bahwa Batam berpeluang menjadi daerah yang besar peluang keresahan bagi Bangsa Indonesia terutama semangat Nasionalisme Kebangsaan bagi Masyarakat dan Pemudanya.
·      Derasnya arus migrasi penduduk dari daerah lain ke Batam menimbulkan problem baru seperti timbulnya rumah-rumah liar, kepadatan lalu lintas, masalah keamanan dan kemiskinan.

2.      Saran-saran
·        Pemerintah Indonesia harus memberikan proteksi yang bagus bagi Investor Asing supaya terjalin keharmonisan dalam membangun kawasan bilateral dalam bidang ekonomi.
·        Pemerintah Kota Batam harus menanamkan semangat Nasionalisme dan cinta tanah air bagi masyarakat sehingga lebih menghargai budaya Bangsa Indonesia ketimbang budaya Asing
·        Pemerintah Indonsia umumnya dan Batam Khususnya perlu membatasi kepemilikan modal asing dalam melakukan Investasinya di kawasan kepulauan Batam.
·        Pemerintah Batam perlu memikirkan langkah-langkah strategis untuk merelokasi perumahan liar di sepanjang jalan demi menjaga keindahan tata ruang Kota Batam.
·        Sejalan dengan pemasukan devisa negara tentunya masyarakat di sekitar kepulauan Batam harus benar-benar bisa merasakannya (terciptanya kesejahteraan dan keadilan ekonomi sehingga tidak terjadi jurang yang melebar) antara masyarakat asing atau pendatang dengan masyarakat asli Batam.

* Karya Tulis Akhir, Peserta TANNASDA/ Lemhanas Pemuda Angkata I Tahun 2007,  Asal Aceh Kerjasama KEMENEGPORA-DEPLU RI-DEPHAN RI- DEPDIKNAS. Program TANNASDA merupakan Program unggulan Kementrian Pemuda Olah Raga Republik Indonesia



DAFTAR PUSTAKA

1. Anastuti Sirait, Hasil Presentasi Seputar Batam (Dalam rangka studi banding peserta TANNASDA ke Batam
2. Ismet Abdullah dkk, Menuju Batam yang lebih Cemerlang, Penerbit: Khatana, 2003
3. Wendy Aritenang dan R.Hutomo, Diskusi Panel Refleksi Masakini Sebagai Umpan Balik dalam menyonsong BPPT 2010
4. Ismet Abdullah, Diskusi tentang Free Trade Zone
5. Wendi Aritenang, Batam dan Singapura bersaing atau bekerjasama, Jakarta: 2003






[1]Ariastuti Sirait, Hasil Presentasi seputar Batam, dalam rangka kunjungan peserta TANNASDA, Kamis 27 September 2007
[2]Ariastuty Sirat, Hasil Wawancara Penulis dengan Staf Pemasaran Otoritas Batam, Kamis 27 September 2007

[3] Ismet Abdullah dkk, Menuju Batam yang lebih cemerlang, Penerbit Khanata, April 2003
[4] Ibid
[5]Wandy Aritenang dan R. Hutomo, Dikusi Panel Refleksi Masa Kini Sebagai Umpan Balik Dalam Menyongsong BPPT 2010, Jakarta 22 Agustus 2001.
[6]Ibid, hal.81
[7]Hasil Wawancara dengan Ibu Ariastuty (Bagian Pemasaran Otoritas Batam), Kamis 27 September 2007
[8]Ismet Abdullah, Diskusi  Terbats Tentang Free Trade Zone di Ruang Kuning, Kantor Gubernur Riau, 16 September 2000.

3 komentar:

aneuk galoeng mengatakan...

Tulisan yang penuh Inspiratif..sukses selalu

dara gayoe mengatakan...

Wah pingin juga mengikuti Diklat Tannasda, oya gimana caranya..mohon informasi

hanum yuli mengatakan...

mantap........