Oleh Bung Syarif**
Umur 27 Tahun, resmi menjadi anggota parlemen di Kutaraja. Ada ungkapan bijak ingin kuasai Aceh maka rebut kekuasaan di Pusat Ibu Kota. Sepertinya spirit ini mendarah daging pada Alumni MUQ langsa dan juga Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry.
Twk Muhammad (Tumad) dikenal sebagai aktivis saat menjadi mahasiswa di UIN Ar-Raniry, aktif diberbagai organisasi, baik intra kampus maupun ekstra kampus sebut saja; menjadi kader Lembaga Dakwah Kampus UIN Ar-Raniry, HMJ Prodi Bahasa Arab, Remaja Masjid Lampriet, Remaja Masjid Syuhada Lamgugop, KAMMI Banda Aceh, BKPRMI Banda Aceh, KNPI Aceh, BKPRMI Aceh, Tastafi Banda Aceh, Ketua KAMMI Aceh hingga DPP ISAD Aceh.
Mimpinya menjadi politisi merakyat dan terus berbuat yang terbaik untuk ummat, ungkap “Tumad” saat kami ngobrol santai, bersama Carlie Papa Romeo (CPR) sesama Relawan RAPI Kota Banda Aceh. Tumad juga tercatat sebagai Guru TPA Darul Falah Gampong Pineung ini, juga aktif memberikan materi keagamaan diberbagai komunitas Remaja di Banda Aceh.
Maka sangat wajar jika masuknya nama Tumad dalam belantaran perpolitikan Kutaraja, anak muda milenial sudah sangat familiar dengan sosok pemuda yang juga pimpinan Balai Pengajian Alfusalam Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala. Dibalik kesibukakkan ia juga sempat menjadi guru Tahsin di UIN Ar-Raniry serta Direktur PAU Doda Idi.
Ia ingin buktikan menjadi politisi hidupnya harus sederhana dan tidak gelamor. Keberpihakannya pada perjuangan advokasi kebijakan Ibu-Ibu Majelis Taklim Kota Banda Aceh tidak diragukan lagi. Salah satu politisi yang konsern melakukan pembinaan kelembagaan dan kompetensi pengurus Majelis Taklim se-Kota Banda Aceh dibuktikan dengan keberpihakan anggaran di Tahun 2026. Yang pada akhirnya lewat pokirnya terlaksana pembinaan Majelis Taklim di Kota Banda Aceh sejak tanggal 21-22 Agustus 2026 di Hotel Kumala Ulee Kareng, Banda Aceh sebanyak 70 orang Majelis Taklim Perempuan dilakukan pembinaan dengan menghadirkan narasumber sesuai kompetensinya.
Ketua Fraksi PKS Kota Banda Aceh dan juga Anggota Badan Anggaran Legislatif Kota Banda Aceh berkomitmen dan istiqamah dalam memperjuangkan anggaran dalam pembinaan Majelis Taklim dan peningkatan kompetensi Santri Dayah dan ini terbukti saat pembahasan anggaran 2027 di saat anggaran Training Center Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Tingkat Provinsi Aceh nol anggarannya beliau meminta untuk dimasukkan anggaran tersebut. Jika perlu anggaran dinas lain wajib digeser demi memperjuangkan anggaran MQK Tingkat Provinsi Aceh.
Jangan sampai di Tahun 2027 Santri Dayah di Banda Aceh tidak mengikuti ajang bergengsi lantaran tidak mendapat sokongan anggaran dari Pemerintah Kota Banda Aceh, ungkap Tumad. Sukses terus Tumad, ikhtiar dalam memperjuangkan anggaran berbasis syariah, Tumad bereh. Takbir.
*Penulis
adalah Alumni Lemhannas Pemuda Angkatan I, Magister Hukum Tata Negara USK, Wakil
DPD BKPRMI Banda Aceh, KAHMI Aceh, Aktivis`98, Dosen Legal Drafting FSH UIN
Ar-Raniry, ICMI Kota Banda Aceh, Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Ketua
Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Aktivis LBH Darul Misbah



Tidak ada komentar:
Posting Komentar