Oleh Bung Syarif**
Iftitah
Mesjid Al Qurban
merupakan mesjid utama kemukiman Lam Ara yang terletak di pinggiran
kota Banda Aceh. Dalam komplek mesjid ini terdapat dua mesjid yaitu mesjid baru
yang didirikan pada masa rezim orde lama, dan mesjid lama yang didirikan pada
tahun 1920-an dan di renovasi pertama kali tanggal 14 -7 1956 M / 1375 H.
Mesjid ini merupakan peninggalan bersejarah yang sampai sekarang masih utuh dan
di fungsikan sebagai tempat ibadah dan tempat pengajian.
Di samping Mesjid lama ( Mesjid Tuha ) ini terdapat satu balai pengajian yang sudah di fungsikan sejak awal berdirinya mesjid dan juga merupakan warisan dari Abu Syiek Abdul Aziz. Namun dari tahun 80-an pengajian yang berlangsung di mesjid tuha dan di bale ini merupakan pengajian mingguan .
Pada awal
tahun 2001 timbullah pemikiran dari panitia Mesjid dan
tokoh tokoh masyarakat disekitarnya untuk mendirikan suatu dayah salafiyah
(tradisional) di samping Mesjid tersebut. Setelah mengadakan musyawarah
timbullah suatu hasil kesepakatan bahwa yang akan memimpin dayah tersebut
adalah Tgk. H. Atasykuri beliau merupakan putra Lambheu (Salah satu desa/gampong
di Darul Imarah, Aceh Besar ). Di
usianya yang masih muda dan pada saat
itu masih aktif mengajar di dayah Ruhul Fata Seulimum Aceh Besar. Kelanjutannya
beberapa tokoh masyarakat meujumpai dan memohon kepada pimpinan Dayah Ruhul
Fata yaitu Tgk. H Muchtar Luthfi AW yang akrab di sapa dengan Abon agar memberi
izin kepada tgk. H. Atasykuri untuk
memimpin dayah dan membina ummat di tempat kelahirannya.
Setelah
mendapat Izin dari Gurunya, akhirnya Tgk. H. Atasykuri yang familiar di
panggil Abana kembali ke kampung halamannya untuk mendirikan sebuah Dayah
Salafiyah yang diberi nama dengan Dayah Madinatul Fata di Gampong Lampeot
Kecamatan Banda Raya.
Dayah ini berdiri pada tanggal 5 Agustus 2001.
Awal dari pada pendirian dayah pertama
adalah cuma satu buah Balai Pengajian, Mushalla / Masjid tua, 4 buah Bilek /
Kamar Santri dan 1 kamar mandi. Luas tanah pada saat pendirian pertama adalah ±
1472 M2. Kemudian pada tanggal 5 Januari 2002 diresmikanlah Dayah Madinatul
Fata Oleh Al Mukarram
Tgk. H. Muchtar Luthfi atau yang lebih dikenal dengan Panggilan Abon, yaitu
Guru
Tgk. H. Atasykuri sekaligus Pimpinan Dayah Ruhul Fata Seulimuem – Aceh Besar
dan Dayah Madinatul Fata ini merupakan
salah satu cabang dari Dayah Ruhul Fata Seulimum Aceh Besar.
Dayah
Madinatul Fata yang beralamat di Jalan Mesjid Al-Qurban No. 5 Gampong Lampeuot
Mukim Lam Ara Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh merupakan salah satu Dayah
tradisional terbaik di Pusat Ibukota. Terakreditasi “A” dari Badan Akreditasi Dayah
Aceh. Metode pembelajaran nya masih murni seperti yang diajarkan dan dijalankan
oleh ulama ulama terdahulu, Aqidah nya berpegang kepada Imam Hasan Al Asy’ari
dan Imam Al Maturidi, Fiqh nya bermazhab kepada Imam Syafi’i. Dayah ini banyak
meraih prestasi baik tingkat Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh hingga level nasional
dalam bidang Musaqah Qiraatil Kutub (MQK). Saat ini Dayah Madinatul Fata santrinya
ribuan dan sudah dibuka dua kampus mondok yaitu Santri Putra dan Santri Putri
yang manajemen pengelolaannya terpisah dalam satu komplek yang dibatasi oleh
tembok pagar yang kokoh dan tinggi. Bangunan Dayahnya tertata rapi dan menawan
serta bersih dan asri dengan pohon-pohon yang rindam di komplek dayah seperti
bangunan eropa, hehe. Jika anda penasaran coba pigi kesana.
Visi Dayah
Madinatul Fata
Adapun Visi
Dayah ini “Menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam yang mencetak kader
pemimpin beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta unggul dalam Iptek dan
kemandirian ekonomi”. Dalam menjalankan Visinya, Dayah ini memiliki Misi
sebagai berikut:
a.
Mencetak santriwan dan santriwati
yang beriman, bertaqwa, berakhlaqul karimah, berjiwa pemimpin, mampu menghadapi
tantangan zaman yang semakin maju serta mampu untuk maju dengan terampil
menghadapi tantangan hidup, berkuwalitas, dan siap menjadi contoh di masyarakat
dan memasyarakatkan islam.
b.
Mencetak kader hafiz al qur’an.
c.
Mewujudkan pemenuhan Sapras (asrama
penginapan) yang lebih layak dan memadai.
d.
Mengembangkan koperasi sebagai
penopang perekonomian pondok pesantren.
e.
Mendorong terwujudnya kemandirian
ekonomi dayah dengan membuka peluang kerja bagi guru senior untuk menjalan dan
mengembangan Usaha Ekonomi Dayah
Pigur Pimpinan
Dayah.
Tgk. H. Atasykuri (Abana) lahir
pada tanggal 15 Februari 1973 di desa Lambheu Kecamatan Darul Imarah Aceh
Besar. Ayahnya bernama Tgk. Muhammad Hasyim Musthafa yang berasal dari Aceh
Selatan. Sedangkan ibundanya bernama Siti Hawa adalah orang asli Aceh
Besar. Beliau merupakan anak ke – 9 dari
11 bersaudara. Sejak kecil, Abana telah sering di bawa oleh ayahandanya untuk
menimba ilmu agama di beberapa tempat pengajian. Karena memang tekatnya yang
kuat, pada tahun 1989 beliau memutuskan untuk menimba ilmu agama di Dayah Ruhul
Fata Seulimeum Aceh Besar setelah tamat menjalani pendidikan di MTsN Keutapang
dua Aceh Besar.
Setelah lama
menimba ilmu agama di sana, akhirnya pada pertengahan tahun 2001 M, beliau
mendapat izin dari gurunya yakni Tgk. H. Mukhtar Luthfi AW (Abon ) untuk
mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama.
Disamping
mengemban tugas yang mulia mengajar di Dayah, beliau mendapat kepercayaan untuk
menjabat ketua organisasi PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyyah ) Kota Banda Aceh.
Prestasi Santri Dayah Madinatul Fata
Walaupun Dayah ini masih tergolong muda untuk katagori Dayah Tradisional
di Aceh bila di Bandingkan dengan Dayah Darussalam Al Waliyah, Labuhan Haji,
Aceh Selatan, Dayah Mudi Mesra, Samalangan dan sejumlah Dayah Tradisional
terkemuka lainnya di Aceh. Dayah ini sudah dikenal publik hingga ke manca
negara (Malaysia). Ini terbukti banyaknya Santri Malaysia yang mondok Pasca
Tsunami dan Sebelum Pandemi Covid-19. Setidaknya ada 25 Santri Luar Negeri (Malaysia)
yang mondok di dayah ini kala itu. Carlie Papa Romeo (CPR) pernah
bincang-bincang dengan Santri dan Guru Dayah seputar kilas balik perkebangan
Santri dan Prestasi Santri.
Adapun raihan Prestasi Dayah ini antara lain;
a. Juara I (Satu) Dayah Bersih dan Sehat se Aceh Tahun
2017
b. Juara I (Satu) dan II (Dua) MQK Kota Banda Aceh Tahun
2019
c. Juara III (Tiga) MFK Se Aceh Di Dayah Ulee Titi Tahun
2020
d. Juara Umum II (Dua) Mewakili Kafilah Banda Aceh Di MQK
II Se Aceh Tahun 2021
e. Juara II (Dua) MQK Nasional Tahun 2023, Tgk. Zahratun
Nufus Bidang Hadits Putri Marhalah Wustha.
f. Juara I (Satu), III (Tiga) dan Harapan I (Harapan
Satu) MQK IV Tingkat Provinsi Tahun 2025.
Tentu Dayah ini terus berikhtiar dalam memperteguh posisi di Pusaran
Ibukota. Layak disebut pusat mencetak kader ulama yang mumpuni kitab turats 20
tahun kedepan. Ini tercermin dengan konsistensi dalam menjaga kemampuan santri
dalam penguasaan kitan kuning. Walau dayah ini sampai saat ini belum mengambil
program Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF)
yang menjadi kekhususan penguatan legalitas agar diakui nasional. Dayah ini
cenderung memberikan opsi lain bagi santriwan/wati yang pingin berijazah formal
mengambil paket pada Satuan Pendidikan Kesetaraan dari jenjang SD/MI sampai jenjang SMA/MA. Setidaknya berdasarkan informasi yang CPR
terima ada santri Madinatul Fata yang menempuh jalur Paket C telah mengabdi di
Kesatuan POLRI Polda Aceh. Ia adalah salah satu anak dari Staf Disdik Dayah
Kota Banda Aceh. CPR berkeyakinan jika Dayah ini mau menerima program SPM atau
PDF Dayah Madinatul Fata semakin qece dan berkelas, sehingga nasab kedayahan
semakin jelas sanad keilmuannya. Jika mengambil jalur Paket C maka disayangkan
identitas legalitas formal tidak lagi tercermin sebagai Alumni Dayah Madinatul
Fata. Tentu ini hanya satu pandangan dari sisi kenegaran Carlie Papa Romeo
(CPR). Yang pasti tabek sigo. Guru Dayah Madinatul Fata keren dan bersahaja, khususnya
Tgk Khairul cs yang selama ini menjadi mitra sukses CPR dalam membangun kemitraan
dalam giat Lomba Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) baik level Kota, Provinsi dan
Nasional.
**Penulis
adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum
Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research
Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, DPP
ISAD Aceh periode 2025-2030, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar