Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang
super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Wadud”. Dipahami Allah zat mahaha mencintai, maha dicintai.
Dengan cinta-Nya Allah menciptakan dan menghidupkan manusia serta menyediakan
seluruh kebutuhan hidupnya. Dengan cinta-Nya, Allah menciptakan seluruh alam
dan jagad raya sebagai sumber kehidupan.
Allah berfirman yang artinya; “Sesunguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkan kembali. Dan Dialah yang maha pengampun lagi maha mencintai hamba-hamba-Nya” (Qs. Buruj; 13-14).
“Sesungguhnya
Tuhanku maha penyayang lagi maha pengasih (al wadud) (Qs. Hud; 90). Diantara
fitrah manusia adalah memiliki rasa kasih sayang dan cinta, baik cinta kepada
Allah maupun cinta selain Allah.
Cinta kepada selain
Allah seperti cinta terhadap tahta, harta dan wanita idealnya dalam rangka
mendekatkan diri hamba pada Rab-Nya. Apalagi kalau kita pahami cinta Rab pada
hamba-hambanya sangat tinggi (besar) dan begitu nyata. Karna itulah dengan
cinta-Nya, Allah menungu pertaubatan hamba-hamba-Nya seraya menyeru agar segera
kembali ke jalan-Nya saja dan memohon ampun pada-Nya. Allah berfirman yang
maknanya; Dan mohon ampunlah kepada Rabmu (Allah) kemudian bertaubatkah
kepada-Nya, sesungguhnya Rabku maha mencintai hamba-hamba-Nya lagi maha
pengasih (Qs. Hud; 90)
Al wadud
menunjukkan bahwa Allah memiliki kasih sayang, cinta dan kelembutan yang sangat
luas kepada hamba-hamba-Nya. Cinta Allah bukan hanya berua perasaan, tetapi
diwujudkan dalam bentuk rahmat, ampunan, petunjuk dan berbagai nikmat yang
diberika kepada makhluk-Nya.
Adapun makna dan
himah al wadud antara lain;
·
Allah mencintai hamba-hamba yang
beriman, bertakwa dan berbuat kebaikan
·
Kasih sayang Allah selalu
mendahului murkan-Nya
·
Allah mengampuni dan menerima
taubat hamba yang kembali kepada-Nya
·
Seorang muslim dianjurkan
meneladani sifat ini dengan menyebabkan kasih sayang, mencitai sesama dan
menjaga hubungan baik dengan manusia.
Oleh karena itu,
spirit terbaik dalam merefleksikan al wadud adalah sebagai berikut;
Pertama; bersyukur
dengan hati, lisan maupun dengan perbuatannya. Kita menyakini sepenuh hati
bahwa cinta-Nya Allah kepada hamba-hambanya jauh melampaui murka-Nya.
Kedua; mensyukuri
al wadud dengan lisan dengan cara memperbanyak lafadz alhamdulillahirabbil
`alamin, agar cinta Allah kepada kita bertambah dengan limpahan karunia-Nya dan
cita kita kepada Allah juga bertambah dengan cara selalu taat atas perintah
Allah dan bertakwa pada-Nya.
Ketiga; mensyukuri
al wadud dengan tindakan nyata berupa selalu menyebut-Nya (berzikir),
mengukuhkan cinta kita kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah
Allah, menjauhi larangan Allah, membaca kalam cinta Ilahi dengan
mengimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari.
Keempat;
mensyukuri al wadud dengan senantiasa mencintaa alam dan lingkungan, tidak
merusak alam dan lingkungan untuk kebutuhan individual, berkasih sayang sesama
makhluk ciptaan-Nya.
**Goresan Pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah
Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN
Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), Majelis Wilayah KAHMI Aceh,
ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD
BKPRMI Kota Banda Aceh, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu
Inshafuddin
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar