Oleh Bung Syarif*
Di wilayah Khurasan (Asia Tengah), pada abad kedelapan hiduplah seorang perampok, Fudhail bin Iyadh. Sosok yang biasa melakukan kejahatan di rute antara Abu Warda dan Sirjis itu amat ditakuti. Jangankan bertemu muka. Siapapun pengelana jalur itu bila mendengar namanya disebut saja sudah merinding ketakutan. Fudhail setelah lama bergelut dalam bidang kemaksiatan akhirnya hijrah saat ia menyimak bacaan Al-Qur`an yang Artinya, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”
Fudhail Menjadi ulama besar
Ia cukup lama menetap di Kufah,
sebelum menghabiskan sisa usianya di Tanah Suci. Pada puncak kariernya sebagai
ulama, ia dijuluki masyarakat sebagai ahli ibadah di dua kota suci (’abid
al-haramain). Fudhail wafat pada Muharram 187 H atau 803 M di Makkah.
Sejak meninggalkan dunia kemaksiatan,
Fudhail bin Iyadh menekuni berbagai ilmu agama, terutama hadis. Ia berguru dari
banyak ulama pada masanya. Di antaranya adalah Sufyan ats-Tsauri, al-A’masy,
Manshur bin Mu’tamir, dan Hisyam bin Hassan. Selain itu, ada pula nama-nama
lainnya, semisal Sulaiman at-Taimy, ‘Auf al-‘Araby, ‘Atha’ bin as-Saaib, serta
Shafwan bin Salim.
Pada akhirnya, ia dikenal
sebagai pakar ilmu hadis dan memiliki banyak sanad. Beberapa
tokoh yang di kemudian hari menjadi ulama besar tercatat pernah berguru
kepadanya. Sebut saja, Imam Syafi’i, Ibnu al-Mubarok, al-Humaidy, dan Yahya bin
al Qaththan. Kemudian, Abdrurrahman bin Mahdi, Qutaybah bin Sa’id, serta Bisyr
al Hafy.
Fudhail bin Iyadh memberikan pesan
khusus bagi kita semua terutama yang telah memasuki usia senja
(umur 45, 55, 60, 70 tahun) antara lain:
1. Jangan banyak bergurau dan
terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat
2. Jangan berlebih-lebihan, berhias,
bersolek, dan berpenampilan serta memakai pakaian yang mencolok dimuka umum
3. Janganlah berlebih-Lebihan makan,
minum, dan berbelanja barang yang kurang diperlukan untuk mendukung amal saleh
4. Jangan berkawan dengan
orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal kepada kita
5. Jangan banyak berjalan dan melancong
ke sana sini tanpa manfaatnya yang tak dapat mendekatkan diri pada kehidupan
akhirat
6. Jangan gelisah, berkeluh kesah,
dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dengan rasa sabar
dan bersyukur
7. Perbanyak doa mengharap keredhaan
Allah agar husnul Khatimah (mati dalam kesudahan yang baik) dan dijauhkan dari
Su'ul Khatimah (mati yang tak baik)
8. Tambahkan ilmu agama, perbanyak
mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya
9. Siapkan/tuliskan wasiat yang
berguna untuk kaum kerabatmu dan anak-anakmu
10. Kerap menjalin silaturahim dan
mendekatkan hubungan yang telah renggang sebelumnya
11. Minta maaf dan berbuat baik
terhadap pihak yang pernah dizalimi
12. Tingkatkan amal saleh terutama
amal yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati
13. Maafkan kesalahan orang kepada
kita walau seberat apapun kesalahan itu
14. Bereskan segala hutang yang ada
dan jangan buat hutang baru walaupun untuk menolong orang lain
15. Berhentilah dari melakukan semua
maksiat
16. Mata, berhentilah memandang yg
tidak halal bagimu
17. Tangan, berhentilah dari meraih
yang bukan hak mu
18. Mulut, berhentilah makan yang
tidak baik dan yang tidak halal bagimu, berhentilah dari ghibah (mengumpat ),
fitnah, dan berhentilah menyakiti hati orang lain
19. Telinga, berhentilah mendengar
hal-hal haram dan tak bermanfaat
20. Berbaik sangka lah kepada Allah
atas segala sesuatu yang terjadi dan menimpa
21. Penuhi terus hati dan lisan kita
dengan istighfar dan taubat untuk diri sendiri, orang tua, dan semua orang
beriman, di setiap saat dan setiap waktu
22. Banyakkan bersedekah dan sucikan
harta dengan mengeluarkan zakat
23. Jika saudara diberi kekuasaan jangan arogan, sombong dan angkuh, apalagi
menggunakan kekuasaan dengan pendekatan otoriter. Tutur kata seorang pemimpin
harus berwibawa dan penuh mauizah hasanah
24. Tutur kata dan sikap seorang
pemimpin harus mencerminkan keluhuran budi. Jika seorang pemimpin sudah tidak
dihargai lagi oleh bawahan, maka itu pertanda gagal dalam memimpin, disarankan
meletakkan jabatan (mundur) agar mendapat kemuliaan
***Goresan Pena Magister Hukum Tata Negara USK, Kabid SDM dan Manajemen DisdikDayah Kota Banda Aceh, Sekretaris PC HIPSI Kota Banda Aceh, JZ01CPR, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, ICMI Kota Banda Aceh, KAHMI Aceh, Aktivis`98, Direktur Aceh Research Institute (ARI), Aktivis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar