Oleh Bung Syarif**
Kongres Nasional Syarikat Islam (SI)/Majelis
Tahkim merupakan salah satu tonggak sejarah terpenting dalam pergerakan
nasional Indonesia. Berawal dari Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan
oleh K.H. Samanhudi 16 Oktober 1905 di Solo, Jawa Tengah, organisasi ini
bertransformasi menjadi kekuatan massa pertama di Hindia Belanda di bawah
kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.
Melalui serangkaian kongres nasional, Syarikat Islam tidak hanya memperjuangkan hak-hak ekonomi pedagang pribumi, tetapi juga menyuarakan ide perjuangan politik, kesetaraan sosial, dan kemerdekaan.
Perjalanan Penting
Kongres Nasional Syarikat Islam
Perkembangan pemikiran dan arah
perjuangan SI dapat dilihat dari beberapa pelaksanaan kongres utamanya:
- Kongres
Pertama (Surakarta, 1913) Kongres ini menegaskan identitas
SI sebagai organisasi yang berfokus pada penguatan ekonomi rakyat,
pendidikan, dan persatuan umat Islam tanpa bertujuan melawan pemerintah
kolonial secara terbuka pada tahap awal. Panda kongres ini Tjokro aminoto
pertama kali menlontarkan gagasan zelftbestuur (pemerintahan sendiri) bagi
Bagsa Indonesia. Panda kongres pertama ini dihadiri oleh seluruh pengurus
Syarikat Islam se-Indonesia.
- Kongres
Nasional Kedua (Jakarta, 1917) SI mulai menunjukkan sikap
politik yang lebih tegas. Kongres ini menekankan pentingnya perjuangan
membela kaum buruh dan tani, serta menuntut pembentukan parlemen yang
mewakili rakyat secara penuh.
- Kongres
Nasional Ketiga (Surabaya, 1918) Berlangsung di tengah situasi
global pasca-Perang Dunia I, kongres ini berfokus pada isu-isu perburuhan,
penolakan terhadap kapitalisme yang menindas, dan penguatan perwakilan
rakyat di Volksraad.
- Kongres
Nasional ke-42 di Surabaya yang direncanakan 18-20 Oktober 2026 berlangsung ditengah situasi
global perang Irak- Israil dan sekutunya Amerika. Mengusung tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati.
Warisan Pemikiran dan Transformasi
Cikal bakal Syarikat Islam berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI)yang
didirikan oleh H. Samanhudi di Surakarta (Solo) awal abad ke-20. Pada masa itu
organisasi ini lahir sebagai wadah memperkuat persatuan para pedagang pribumi,
khususnya umat Islam dalam menghadapi berbagi persoalan ekonomi dan
perdagangan.
Dalam perkembangannya gerakan ini mengalami transpormasi. HOS
Tjokroaminoto kemudian memainkan peranan penting dalam memperluas gerakan
sehingga tidak lagi terbatas pada persoalan perdagangan.Organisasi ini berkembang
menjadi gerakan social, ekonomi, politik dan keumatan yang memiliki pengaruh luas ditengah masyarakat.
Perubahan nama menjadi Syarikat Islam mencerminkan semakin luasnya ruang
berjuangan organisasi. Islam menjadi landasan persautuan sekaligus nilai moral
dalam memperjuangkan keadilan, kemajuan masyarakat dan kesejahteraan.
Syarikat Islam dan
Kebangkitan Nasional
Di era modern, Syarikat Islam terus
melanjutkan konsolidasi organisasinya melalui Majlis Tahkim (Kongres
Nasional). Fokus perjuangan SI saat ini kembali pada akar sejarahnya:
penguatan ekonomi umat, kemandirian finansial, pengembangan pendidikan Islam,
dan partisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Salah satu kontribusi
Syarikat Islam (SI) adalah membangun kesadaran berorganisasi dan kesadaran
kebangsaan di tengah masyarakat.
Syarikat Islam juga menjadi tempat
lahir dan berkembangnya pemikiran sejumlah tokoh pergerakan. Organisasi ini
memperkenalkan pentingnya pendidikan, persatuan, kemandirian ekonomi dan
gerakan perjuangan politik berkeadaban. HOS Tjokro Aminoto menjadi salah satu
tokoh sentral yang memperkuat gagasan bahwa Islam harus bangkit dari
keterperujkan ekonomi. Kemandirian Ekomi mutlah diperlukan diera globalisasi
ini. Semangat ini dikenal luas dengan gagasan sama rata, sama rasa yang menggambarkan
cita-cita SI. Karena itu semangat SI dapat diterjemahkan lebih nyata melalui:
1. Penguatan ekonomi
umat melalui eksistensi Koperasi, UMKM dan Kewirausahaan
2. Peningkatan kualitas
Pendidikan untuk melahirkan kader pemimpin
yang berilmu dan berakhlak denngan pemberian beasiswa S1 hingga Doktoral
bagi pengurus SI yang aktif di seluruh nusantara
3. Penguatan Dakwah yang
mencerdaskan dan memberi solusi terhadap persoalan umat, baik dakwah mimbar
maupun dakwah non mimbar
4. Pemberdayaan
Gernerasi muda melalui berbagai Pelatihan/Training Penguatan Capasity Building dalam berbagai ragam
tema training meliputi; dakwah digital, sertifikasi halal, dakwah Artificial Inteligence (AI) serta
tema-tema lainnya sesuai kondisi kekinian.
5. Penguatan Persatuan
Umat dengan mengedepankan ukhwah dan kepentingan bersama
6. Pengembangan
Kepemimpinan Nasional yang amanah, professional dan berorientasi pada kemaslahatan
umat, dengan berbagai jenjang training sesuai kebutuhan organisasi.
***Penulis adalah Direktur
Forum Milenial Literasi Aceh, Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Syarikat Islam
Aceh, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry


Tidak ada komentar:
Posting Komentar