Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie
Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al
Awwal”. Dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha awal, tidak ada
sesuatupun dan sesiapapun yang mendahului-Nya. Oleh karenanya Allah sebagai
prima causa, bahwa segala sesuatu adanya disebabkan karena diadakan oleh-Nya.
Allah juga tidak berhajad pada apapun
dan kesiapapun, dan justru sebaliknya apapun dan kesiapapun berhajad pada
Allah. Inilah Allah yang maha awal. Yang
Maha Awal bermakna juga;
·
Allah sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan
·
Allah tidak ada memiliki permulaan dan tidak didahului
oleh apa pun
· Semua makhluk memiliki awal sedangkan Allah tidak
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad :”Ya
Allah, Engka Al Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelumm-Mu. Engkaulah al
akhir, maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu...” (HR. Muslim)
Jadi al awwal mengajarkan bahwa
Allah adalah sumber dari segala sesuatu dan keberdaan-Nya tidak bergantung pada
apa pun.
Allah berfirman yang
artinya: “Dialah yang maha awal dan yang akhir, yang zahir dan yang batin, dan
Dia maha mengetahui segala sesuatu (QS. Al Hadid: 3).
Sahabat yang super,
pengalaman membuktikan bahwa awal segala sesuatu itu sangat menentukan. Awal yang
baik akan menuntun dan menuntut pelakunya kepada kebaikan dan kebaikan. Jika awal
sudah mengesankan, maka masa-masa berikutnya menjadi keberkahan dan terserah
anda cara mengapresiasikan, begitupun sebaliknya.
Syahdan, sebagai orang yang
beriman sudah selayaknya kita mengembangkan akhlak mensyukuri al awwal baik
dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata. Oleh karena itu cara terbaik dalam merefleksikan Al Awwal adalah sebagai
berikut:
Pertama, mensyukuri al awwal
di hati dengan meyakini bahwa Allah zat yang maha awal, zat pertama dan utama.
Sehingga karenanya mestinya diawalkan, dinomorsatukan dan diutamakan atas
selainn-Nya
Kedua, mensyukuri al awwal
secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil `alamin dan memuji dengan
asma-Nya. Dengan memuji al awwal semoga kita dianugerahi iradah dan inayah untuk
menjadi perintis kebaikan dan penebar kemaslahatan.
Ketiga, menysukuri al awwal
dengan perbuatan nyata, diantaranya berusaha semaksimal mungkin menjadi pemula
kebajikan, perintis ide-ide dan kebajikan untuk kemaslahatan umat.
**Penulis adalah Kabid SDM
dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK,
Direktur Forum Milenial Literasi Aceh, Direktur Aceh Research Institute, Dosen
Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah
Terpadu Inshafuddin, Wali Santri Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Fasilitator program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef

Tidak ada komentar:
Posting Komentar