Banda Aceh-Latar belakang pendidikannya memperkuat jalur pengabdian tersebut, karena ia tercatat sebagai lulusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia melanjutkan studi S2 Kesejahteraan Sosial Spesialis Kemiskinan di Poltekesos Bandung.
Redha Rahmatillah, S.Sos.I., Sp.PSM atau yang akrab disapa Thogam, telah malang melintang di dunia kerja sosial, pendidikan, dan kepemudaan. Sosok pemuda asal Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya yang kini menetap di Desa Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh ini, telanjur dikenal sebagai pekerja sosial yang konsisten menempatkan pengabdian sebagai jalan hidup.
Jejak aktivis Thogam sudah terbaca sejak masa
mahasiswa. Pada 2014, kiprahnya bahkan sempat mendapat sorotan melalui liputan
“Mahasiswa Berjiwa Sosial” versi sebuah portal berita lokal Aceh. Sejak itu,
pengabdian tak pernah menjadi aktivitas sampingan, melainkan identitas yang
melekat kuat. Jejak aktivis Thogam sudah terbaca sejak masa mahasiswa.
Pada 2014, kiprahnya bahkan sempat mendapat sorotan melalui liputan “Mahasiswa
Berjiwa Sosial” versi sebuah portal berita lokal Aceh. Sejak itu, pengabdian
tak pernah menjadi aktivitas sampingan
Salah satu tonggak penting adalah ketika ia
mendirikan Laskar Pengajar di kawasan eks lokalisasi prostitusi Gedang Sewu,
Kediri, Jawa Timur pada 2016–2017. Program pendidikan berbasis relawan tersebut
lahir dari keprihatinan atas keterbatasan akses belajar anak-anak di wilayah
marginal. Kini, gerakan itu berkembang menjadi Laskar Pengajar Indonesia
(LPI) dan telah menjangkau lima provinsi di Indonesia.
Tak hanya di bidang pendidikan, Thogam juga aktif
mendorong kesadaran lingkungan. Pada 2019, ia mendirikan Bank Sampah Mekar
Harum Bandung, sebagai upaya konkret menggabungkan isu lingkungan dengan
pemberdayaan ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut kemudian ia tuangkan
dalam karya tulis berjudul Pengembangan Kapasitas Pengurus Bank Sampah Mekar
Harum Bandung.
Di Aceh, kiprah organisasionalnya terbilang
panjang. Ia tercatat sebagai Ketua LSM Generasi Muda Peduli Aceh (GeMPA), Ketua
Yayasan Zamharira Harapan Aceh, Ketua Samarata Aceh Center, hingga Ketua Forbes
Relawan Aceh. Perannya juga menjangkau sektor keagamaan, kepemudaan, dan sosial
kemasyarakatan, baik sebagai pengurus organisasi Islam maupun relawan
kemanusiaan.
Latar belakang pendidikannya memperkuat
jalur pengabdian tersebut, karena ia tercatat sebagai lulusan S1 Pengembangan
Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia melanjutkan studi S2
Kesejahteraan Sosial Spesialis Kemiskinan di Poltekesos Bandung. Kombinasi
akademik dan praktik lapangan menjadikannya figur yang memahami persoalan
masyarakat secara struktural maupun kultural. Di ranah profesional, Thogam
pernah dipercaya sebagai Tenaga Ahli Wali Kota Banda Aceh (2022–2024), serta
mengelola Thogam Production, usaha kreatif yang ia rintis sejak 2018.
Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai
pengajar dan pendakwah, yang kerap mengisi ruang-ruang edukasi dan dakwah
dengan pendekatan sosial-humanis. Keterlibatannya dalam dunia politik praktis
pun tak terelakkan. Ia pernah maju sebagai calon anggota DPRK Abdya (2019) dan terlibat
Timses Waliko Illiza-Afdhal, Timses Muallem-Dekfad. Bagi Thogam, politik
hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Sesuai motto Thogam “Bermanfaat bagi
orang lain” bukan sekadar moto, melainkan prinsip yang ia buktikan lewat kerja
nyata dari lorong-lorong pendidikan anak marginal, gerakan relawan, hingga
kebijakan publik. Di tengah dinamika sosial Aceh dan Indonesia, Thogam
memilih tetap berdiri sebagai penggerak, bukan penonton.
Selasa, 30 Juni 2026, Thogam melakukan diskusi
dengan Caerlie Papa Romeo (CPR) dalam ikhtiar pentadbiran Balai Pengajian. Mimpi
Besarnya anak-anak Gampong Meuraxa, tampat ia kini bermukim senantiasa
melaksanakan program mengaji. Anak-anak mesti cerdas dan berkarakter, ungkap
Thogam. Banda Aceh Kota Kolaborasi dalam berbagai giat Pendidikan, Kesehatan,
Keagamaan, Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi. Politisi Gerindra Kota Banda Aceh ini lebih memilih sebagai aktivis pekerja sosial. (Red)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar