30 Jun 2026

Thogam Pemuda Barsela Yang Memilih Profesi Aktivis Pekerja Sosial


Banda Aceh-Latar belakang pendidikannya memperkuat jalur pengabdian tersebut, karena ia tercatat sebagai lulusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia melanjutkan studi S2 Kesejahteraan Sosial Spesialis Kemiskinan di Poltekesos Bandung. 

Redha Rahmatillah, S.Sos.I., Sp.PSM atau yang akrab disapa Thogam, telah  malang melintang di dunia kerja sosial, pendidikan, dan kepemudaan. Sosok pemuda asal Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya yang kini menetap di Desa Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh ini, telanjur dikenal sebagai pekerja sosial yang konsisten menempatkan pengabdian sebagai jalan hidup.

 Jejak aktivis Thogam sudah terbaca sejak masa mahasiswa. Pada 2014, kiprahnya bahkan sempat mendapat sorotan melalui liputan “Mahasiswa Berjiwa Sosial” versi sebuah portal berita lokal Aceh. Sejak itu, pengabdian tak pernah menjadi aktivitas sampingan, melainkan identitas yang melekat kuat. Jejak aktivis Thogam sudah terbaca sejak masa mahasiswa. Pada 2014, kiprahnya bahkan sempat mendapat sorotan melalui liputan “Mahasiswa Berjiwa Sosial” versi sebuah portal berita lokal Aceh. Sejak itu, pengabdian tak pernah menjadi aktivitas sampingan

Salah satu tonggak penting adalah ketika ia mendirikan Laskar Pengajar di kawasan eks lokalisasi prostitusi Gedang Sewu, Kediri, Jawa Timur pada 2016–2017. Program pendidikan berbasis relawan tersebut lahir dari keprihatinan atas keterbatasan akses belajar anak-anak di wilayah marginal.  Kini, gerakan itu berkembang menjadi Laskar Pengajar Indonesia (LPI) dan telah menjangkau lima provinsi di Indonesia.

Tak hanya di bidang pendidikan, Thogam juga aktif mendorong kesadaran lingkungan. Pada 2019, ia mendirikan Bank Sampah Mekar Harum Bandung, sebagai upaya konkret menggabungkan isu lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut kemudian ia tuangkan dalam karya tulis berjudul Pengembangan Kapasitas Pengurus Bank Sampah Mekar Harum Bandung.

Di Aceh, kiprah organisasionalnya terbilang panjang. Ia tercatat sebagai Ketua LSM Generasi Muda Peduli Aceh (GeMPA), Ketua Yayasan Zamharira Harapan Aceh, Ketua Samarata Aceh Center, hingga Ketua Forbes Relawan Aceh. Perannya juga menjangkau sektor keagamaan, kepemudaan, dan sosial kemasyarakatan, baik sebagai pengurus organisasi Islam maupun relawan kemanusiaan.

Latar belakang pendidikannya memperkuat jalur pengabdian tersebut, karena ia tercatat sebagai lulusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia melanjutkan studi S2 Kesejahteraan Sosial Spesialis Kemiskinan di Poltekesos Bandung.  Kombinasi akademik dan praktik lapangan menjadikannya figur yang memahami persoalan masyarakat secara struktural maupun kultural. Di ranah profesional, Thogam pernah dipercaya sebagai Tenaga Ahli Wali Kota Banda Aceh (2022–2024), serta mengelola Thogam Production, usaha kreatif yang ia rintis sejak 2018.

Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai pengajar dan pendakwah, yang kerap mengisi ruang-ruang edukasi dan dakwah dengan pendekatan sosial-humanis. Keterlibatannya dalam dunia politik praktis pun tak terelakkan. Ia pernah maju sebagai calon anggota DPRK Abdya (2019) dan terlibat Timses Waliko Illiza-Afdhal, Timses Muallem-Dekfad. Bagi Thogam, politik hanyalah alat, bukan tujuan akhir.  Sesuai motto Thogam “Bermanfaat bagi orang lain” bukan sekadar moto, melainkan prinsip yang ia buktikan lewat kerja nyata dari lorong-lorong pendidikan anak marginal, gerakan relawan, hingga kebijakan publik.  Di tengah dinamika sosial Aceh dan Indonesia, Thogam memilih tetap berdiri sebagai penggerak, bukan penonton.

Selasa, 30 Juni 2026, Thogam melakukan diskusi dengan Caerlie Papa Romeo (CPR) dalam ikhtiar pentadbiran Balai Pengajian. Mimpi Besarnya anak-anak Gampong Meuraxa, tampat ia kini bermukim senantiasa melaksanakan program mengaji. Anak-anak mesti cerdas dan berkarakter, ungkap Thogam. Banda Aceh Kota Kolaborasi dalam berbagai giat Pendidikan, Kesehatan, Keagamaan, Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi. Politisi Gerindra Kota Banda Aceh ini lebih memilih sebagai aktivis pekerja sosial. (Red)


Tidak ada komentar: