Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Qayyum”. Dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mandiri dengan sendirinya, baik zat-Nya, sifat-Nya, maupun af`al atau perbuatan-Nya. Allah tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, justru tempat bergantung apapun dan siapapun.
Para ulama memberi penegasan bahwa al qayyun dapat dimaknai dengan dua makna. Pertama, Allah adalah zat yang maha mandiri, Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan justru malah membantu, tidak memerlukan sesuatu justru malah dipetlukan oleh hamba-hamba-Nya. Kedua, Allah adalah zat yang maha mengatur dan memenuhi hajat makhluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini teratur karena diatur oleh Allah. Semua manusia membutuhkan Allah, dari sejak penciptaannya hingga kapanpun jua. Nama al qayyum sering disebut bersamaan dengan al hayyu (yang maha hidup) seperti dalam ayat kursi; “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, yang maha hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al Baqarah; 255).
Makna al qayyum mencakup antara lain;
· Allah tidak bergantung kepada siapapun
· Allah senantiasa mengatur, memelihara, dan mengurus seluruh makhluk
· Semua makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya
· Kehidupan, rezeki dan keberlangsungan alam semesta berada dalam pengaturan-Nya
Firman Allah yang artinya:
Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) yang maha pemurah?” sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rab mereka ( QS. Al Anbiya; 42).
“ Sesungguhnya Allah menahan lagit dan bumi supaya jangan lenyap dan sesungguhnya jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah maha penyantun lagi maha pengampun” (QS. Fathir; 41)
Allah tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah maha tinggi lagi maha besar (QS. Al Baqarah; 255).
Karna itulah cara terbaik dalam merefleksikan spirit al qayyum adalah sebagai berikut;
Pertama; mensyukuri dengan hati kita lakukan dengan benar-benar menyakini bahwa Allah maha mandiri dalam segala hal. Dan selain Allah adalah makhluk cipataan-Nya yang seandainya memiliki kemandirian, maka kemandirian itu adalah karunia Allah ta`ala.
Kedua; mensyukuri al qayyum dengan lisan dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil `alamin, semoga Allah memberikan kemandirian dalam hidup ini. Mandiri dalam berperilaku sehingga tidak terkekang dan atau dikendalikan oleh hawa nafsu atau setan.
Ketiga; mensyukuri al qayyum dengan perbuatan nyata seperti terus berusaha mandiri; mandiri dalam segala hal. Kita berusaha mandiri secara ekonomi dengan memenuhi seluruh kebutuhan diri dan keluarga, tidak tergantung pada belas kasihan orang lain. Begitu juga dalam sosial dan budaya. Kita berpegang pada budaya kita yang adiluhung (luhur, mulia dan bermartabat) warisan orang tua kita. Secara personal kita harus mandiri dalam berprilaku, jangan sampai dikendalikan oleh hawa nafsu dan apalagi dikendalaikan oleh setan. Dalam kontek bernegara, harus mandiri dan berdaulat, jangan dipengaruhi oleh asing atau pemilik modal.
**Goresan pena Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketua DPD BKPRMI Banda Aceh, Aktivis LBH Darul Misbah, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin, Fasilitator Program Dayah Ramah Anak Terintegrasi (Pro DAI) YaHijau-Unicef, Fasilitator Aksi Bergizi Flower Aceh-Unicef

Tidak ada komentar:
Posting Komentar