Oleh Bung Syarif**
Sahabat yang super, Carlie Papa Romeo (CPR) kali ini membahas tentang “Al Majid”. Dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zat-Nya, mulia sifat-Nya maupun mulia perbuatan-Nya. Kemuliaan zat Allah pada kesempurnaan eksistensi-Nya, tidak ada yang menyerupai apalagi menandingi-Nya. Kemuliaan sifat Allah mewujud dalam seluruh puncak kebaikan milik Allah. Dan kemuliaan perbuatan-Nya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.
Allah berfirman yang artinya; para malaikat itu berkata; “apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Itu kamu hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah maha terpuji lagi maha pemurah” (Qs. Hud; 73).
Sesungguhnya Dialah yang
menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah yang
maha pengampun lagi maha pengasih, yang mempunyai `arsy, lagi maha mulia (Qs.
Al Buruj; 13-15).
Sejatinya kemulian yang sesungguhnya
hanya milik Allah, sementara kemuliaan yang ada pada selain-Nya atau pada
hamba-hamba-Nya sangat tergantung pada seberapa intensif interaksi dan kedekatannya
dengan Allah, kedekatan hamba dengan Rab-Nya yang terwujud dalam ketakwaan.
Hai manusia sesungguhnya
kami menciptakan laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal (Qs. Al
Hujarat; 13).
Hikmah meneladani al majid
antara lain;
·
Menjaga kehormatan diri dengan akhlak mulia
·
Memuliakan orang tua, guru dan sesama manusia
·
Menghindari perbuatan yang merendahkan martabat diri
orang lain
·
Memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah atas segala
nikmat-Nya.
Oleh karena itu, spirit
terbaik dalam merefleksikan al majid adalah sebagai berikut;
Pertama; mensyukuri al majid
baik bersyukur dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata. Mensyukuri dengan hati,
kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah maha mulia yang kemuliaan-Nya sempurna,
tidak ada sedikitpun cela.
Kedua; mensyukuri al majid
dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil `alamin, agar Allah senantiasa
memuliakan kita.
Ketiga; mensyukuri al majid
dengan tindakan nyata seperti selalu berzikir kepada Allah, berperilaku mulia,
menjaga tuturkata yang tidak baik dan tidak pantas. Saling menghargai sesama
(toleransi).
**Goresan pena Kabid SDM dan
Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Magister Hukum Tata Negara USK, Dosen
Legal Drafting FSH UIN Ar-Raniry, Direktur Aceh Research Institute (ARI), KAHMI
Aceh, ICMI Kota Banda Aceh, DPP ISAD Aceh, PW Syarikat Islam Aceh, Wakil Ketu
DPD BKPRMI Banda Aceh, Ketua Komite Dayah Terpadu Inshafuddin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar